Peran Kincir Menjaga Oksigen Terlarut (DO)

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

13 August 2019

Kabar Udang sebelumnya telah membahas tentang oksigen terlarut (DO) yang penting diperhatikan di tambak. Peran kincir sangat vital sebagai sumber DO, selain itu berperan mencegah stratifikasi variabel kualitas air (DO, pH, plankton, dan salinitas), mengatur posisi sedimen akan diendapkan, memaksimalkan feeding area, dan mengurangi daerah mati. Oksigen yang dibutuhkan bertambah seiring dengan meningkatnya biomassa udang di tambak. Pada umur budidaya 60-110 hari biasanya adalah masa puncak kebutuhan akan oksigen.

Salah satu peran kincir yang paling penting adalah destratifikasi oksigen. Destrastifikasi adalah menghilangkan perbedaan konsentrasi DO pada kedalaman air tertentu atau pada titik tertentu. Dasar kolam adalah tempat yag disukai udang dan di dasar kolam tersebut potensi oksigen terbatas ketersediaannya. Kondisi hipoksia atau DO dibawah 2 ppm akan berefek pada penurunan pertumbuhan, menyebabkan nilai SR kecil, nafsu makan terganggu, molting tidak teratur, kapasitas osmoregulasi terganggu, dan daya imun rendah sehingga rentan terserang penyakit. Udang yang mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) aktivitas dan kecepatan renangnya turun dan cenderung bergerak menuju ke permukaan.

Metabolisme udang dipengaruhi oleh dinamika suhu di lingkungan sekitarnya, reaksi enzimatiknya tergantung pada suhu lingkungan dan suhu internal tubuh. Setiap suhu naik sebesar 10°C akan meningkatkan konsumsi oksigen 2-3 kali lipat. Ukuran udang juga berpengaruh pada tingkat konsumsi oksigen. Udang yang masih berukuran kecil mengonsumsi oksigen lebih tinggi karena memerlukan lebih banyak energi untuk pertumbuhan, selain itu juga laju metabolismenya lebih tinggi daripada udang berukuran besar.

Selain oksigen, ada juga karbondioksida yang merupakan hasil respirasi. Saat siang fitoplankton berfotosintesis menggunakan karbondioksida dan menghasilkan oksigen, sedangkan pada malam hari melakukan respirasi menggunakan oksigen. Karbondioksida tinggi terjadi saat plankton mati massal atau saat aktivitas bakteri menguraikan bahan organik (TOM) tinggi sehingga DO turun. Adanya kincir dapat digunakan untuk meningkatkan DO dan mengurangi karbondioksida berlebih dengan memperbaiki difusi kembali ke atmosfir. Jumlah dan kekuatan kincir kemudian disesuaikan dengan luas kolam dan jumlah udang yang ditebar. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penempatan kincir untuk mengatur arah arus dari kincir (baca Kabar Udang sebelumnya: Tips Menentukan Letak dan Jumlah Kincir).

 

Referensi:

Bett, C. and L. Vinatea. 2009. Combined Effect of Body Weight, Temperature, and Salinity on Shrimp Litopenaeus vannamei Oxygen Consumption Rate. Brazilian Journal of Oceanography. 57 (4): 305-314.

Boyd, C. E., and C. S. Tucker. 1998. Pond Aquaculture Water Quality Management. Springer Science+Business Media. New York.

Budiarti, T., T. Batara, dan D. Wahjuningrum. 2005. Tingkat Konsumsi Oksigen Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dan Model Pengelolaan Oksigen Pada Tambak Intensif. Jurnal Akuakultur Indonesia. 4 (1): 89-95.

Supono. 2017. Teknologi Produksi Udang. Plantaxia. Yogyakarta.

Syah, R., H. S. Suwoyo, M .C. Undu, dan Makmur. 2006. Pendugaan Nutrien Budget Tambak Intensif Udang, Litopenaeus vannamei. Jurnal Riset Akuakultur. 1 (2): 181-202.

Zhang, P., X. Zhang, J. Li, and G. Huang. 2006. The Effects of Body Weight, Temperature, Salinity, pH, Light Intensity and Feeding Condition on Lethal DO Levels of Whiteleg Shrimp, Litopenaeus vannamei (Boone, 1931). Aquaculture. 256: 579-587.

Zhang, P., X. Zhang, J. Li, and G. Huang. 2007. The Effects of Temperature and Salinity on the Swimming Ability of Whiteleg Shrimp, Litopenaeus vannamei. Comparative Biochemistry and Physiology, Part A. 147: 64-69